> Berdoalah di mana saja Anda berada, Tuhan ada di mana-mana.
> Bila doa Anda menjadi kering dan rutin, teruskan saja.
> Tanah yang kering kerontang menyambut datangnya hujan.
> Bawalah kemarahan Anda dalam doa, logam yang panas bisa dibentuk.
> Bila Anda berdosa dan terus menerus jatuh, berdoalah.
> Tuhan tetap mencintai Anda.
> Berdoalah bila Anda cemas.
> Doa membuat segala sesuatu bisa dipikirkan dan dipertimbangkan secara sehat.
> Bila karena sesuatu hal Anda tidak bisa berdoa, bersantailah.
> Keinginan untuk berdoa itu sudah merupakan langkah awal menuju doa.
> Bila dorongan doa mengajak Anda untuk mengambil resiko, beranilah.
> Tuhan akan mendukung Anda.
> Bila Anda merasa sedih atau menyesal, menangislah.
> Air mata adalah doa dari kalbu hati.
> Jika Anda tidak menyukai seseorang, berdoalah untuknya.
> Doa mengungkapkan maksud Tuhan yang tersembunyi.
> Bila Anda menerima kabar buruk, tegarlah, doa memberi cahaya terang.
> Jika "doa" membuat Anda jadi pasif dan acuh tak acuh, itu bukanlah doa.
> Doa sejati akan membuahkan kepedulian dan pelayanan.
> Gunakanlah saat-saat ribut dan tegang untuk berdoa.
> Kegaduhan adalah hiruk pikuk ciptaan yang mencari Tuhan.
> Berdoalah bila Anda merasa kesepian.
> Doa membuat Anda ditemani oleh para malaikat.
> Bila hidup ini terasa kejam dan tak adil, berdoalah terus.
> Tuhan adalah karenanya, bukan penyebabnya.
> Berdoa adalah bernafas
> Lakukanlah dalam-dalam dan Anda akan dipenuhi oleh kehidupan.
By: Martin Luther King, Jr.
Selasa, 12 Juli 2011
Jumat, 08 Juli 2011
Batasan Dan Buah Roh
Oh my ... akhir-akhir ini ide tulisa bener-bener ngga berhentiiiiii ... *wink wink* rasanya begitu selesai nulis satu hal, udeh kepikir untuk nulis hal yang laen lagi dan seterusnya ... Kali ini masih soal batasan. hehe.
Kemaren abis nulis "Blessings Through Boundaries", ada pertanyaan dalam hati gue. "Kenapa ya bisa begitu? Kenapa ya batasan itu kok ternyata bisa membawa dampak begitu besar?" Rasanya masih ada sesuatu yang laen ...
Dan tadi pagi begitu gue bangun, en sambil males-malesan gue bersyafaat buat beberapa temen gue di ranjang waktu itulah Babe ingetkan satu hal. "BUAH ROH." Gila rasnaya gue dah lamaaaaaa bangeeettt ngga denger ada orang ngomongin Buah Roh! :p En tiba-tiba itu semuanya jadi make sense.
Ayo guys, siapa yang bisa nyebutin kesembilan Buah Roh?
Hehehe. Gue bisa hafal buah roh, seorang Pdt ngajarin gue lagu Buah Roh. Jadilah gue nyatol sampe sekarang. Buah Roh adalah : KASIH, SUKACITA, DAMAI SEJAHTERA, KESABARAN, KEMURAHAN, KEBAIKKAN, KESETIAAN, KELEMAH LEMBUTAN, PENGUASAAN DIRI.
(Aih gue dah bilang ama Babe, "Be, gue dah ngga sabar pengen tuh ngajarin lagu2 sekolah minggu ama anak2 gue. Lagunya nama2 murid Tuhan Yesus, Urutan kitab Perjanjian Baru, Buah Roh. Gue hafal semuanya krn semua ada lagunya hahahha.")
Balik lagiiii ... ke buah roh. :) Loh apa hubungannya sihhh? Batasan dengan buah roh?
Ketika kita bicara masalah batasan, pertanyaan gue, gampang ngga sih mentaati sebuah batasan? Yang bilang gampang pasti ngga tau gmana rasanya lagi jatuh cintronggggg termehek-mehekkkkkk. Wuidih ... susahnya itu ampun-ampun. Itu tuh bener-bener pergumulan. Nah tapi ketika kita bener-bener minta tolong pada Tuhan dan belajar menyerahkan semua perasaan kita dan meletakkannya di bawah kaki Yesus, apa yang terjadi?
Tuhan melatih kita untuk mengembangkan karakter ... PENGUASAAN DIRI!
Ketika kita belajar untuk menunggu waktu-Nya Tuhan dan ngga asal selonong boy pegang kanan kiri, grepek-grepek, maupun juga menjaga diri supaya tidak DIPEGANG, Tuhan melatih kita untuk mengembangkan karakter ... KESABARAN.
Ketika kita peduli dengan pergumulan pasangan kita, dan kita mau juga ikut menjaga kekudusan fisik dan hati pasangan kita, Tuhan melatih kita untuk mengembangkan karakter ... KASIH.
Dan 3 karakter ini ... SANGAT BERGUNA di dalam pernikahan.
Sebaliknya guys, coba bayangkan, kalo selama pacaran, kita ngga pernah bikin batasan.
"Kalo gue mo ngomong sama dia, GUE HARUS BISA NGOMONG ... SEKARANG!" - tidak ada batasan emosi
"Wah gue lagi pengen curhat nih ... artinya gue KUDU telpon dia ... SEKARANG!" - no emotional boundaries
"Aduh ngapain sih tunggu2 married baru ciuman. Gue pengennya ciuman SEKARANG, kenapa mesti tunggu nanti?" - tidak ada batasan fisik
"Eh gue mo pake baju kayak gmana, co gue ngga bisa ngatur. enak aje ... emank gue ce apaan. Pokoknya gue mau kayak gimana, KUDU terjadi!" - tidak membantu menjaga kekudusan pasangan
Kalian liat guys? Tanpa batasan, kita justru memupuk sikap KETIDAK SABARAN
"I want something and I MUST get it NOW!"
Yang kita latih bukan penguasaan diri, tapi pengumbaran keinginan. Alih-alih belajar mengasihi dan menghormati pasangan kita, kita justru MEMANIPULASI dia untuk memuaskan nafsu keinginan kita. Nafsu ingin ngobrol, nafsu ingin cerita, nafsu ingin belanja, nafsu ingin pegang-pegang maupun nafsu dipegang-pegang, sampe nafsu pengen denger suaranya. *uhuk uhuk ...*
Guys, yang namanya orang pacaran kalo ngga ada nafsu pengen ngobrol, nafsu pengen ketemu, nafsu pengen berdua, itu menurut gue sih tanda tanya besar ... :p Kalo namanya org jatuh cintrong semuanya itu pasti adalaahhh ... Tapi ngga berarti bahwa kita KUDU memuaskan semuanya ... dan harus dipuaskan SEKARANG!! Itu yang namanya belajar penguasaan diri.
Nah, ketika kalian selama pacaran, kalian mau bekerja sama dengan Tuhan untuk melatih karakter-karakter Ilahi dalam diri kalian (Buah roh kesabaran, kasih, penguasaan diri). sewaktu kalian married nanti, itu akan sangat berbeda dengan orang-orang yang sebelon pacaran tidak pernah mengizinkan Tuhan membentuk karakternya.
Di mana-mana yang namanya pertama kali married, dan menikah dengan LAWAN JENIS (inget loh gals, suami kalian nanti itu COWOK, jadi jangan harapkan dia untuk mengerti kalian seperti sahabat wanita kalian mengerti kalian!), itu pasti akan ada banyak hal-hal yang bikin kaget, maupun hal-hal yang tidak disangka-sangka. Nah pasangan-pasangan yang tidak pernah latihan penguasaan diri, en maunya semua serba SEKARANG dan kudu dapet apa yang DIA MAU, seperti yang DIA SUKA, akan membawa sikap yang sama ke dalam pernikahannya. Dan yah kalo kayak gitu pasti akan mengalami goncangan yang lebih dalem. Berantem lebih sering, ngambek lebh banyak.
Tapi kalo dari awal, sudah terbiasa menguasai diri, menguasai emosi, terbiasa untuk sabar, mengutamakan pasangan, ketika masa penyesuaian tiba, itu pasangan itu akan lebih tahan banting. Bukan karena mereka tidak punya masalah tapi karena mereka sudah BELAJAR untuk MEMBUAT KEPUTUSAN dengan benar sesuai dengan FT. Mereka sudah 'terlatih' untuk hidup dengan penguasaan diri.
Pernikahan yang bahagia itu hanya bisa terjadi, ketika pasangan memutuskan untuk bertindak sesuai dengan Firman Tuhan. Dan belajar untuk bertindak sesuai dengan FT itu bisa dimulai ketika masih pacaran. :)
Pilihan ada di tangan kalian guys. Waktu pacaran mau pacaran sesuka kalian atau mau belajar untuk menggunakan masa pacaran untuk mengembangkan karakter-karakter Ilahi?
Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Mazmur 119 : 9
Renungan (Harapan Orangtua)
Di saat aku tua,bukan lagi diriku yang dulu. Maklumilah diriku,bersabarlah dalam menghadapiku.
Di saat aku menumpahkan kuah sayuran di bajuku, Di saat aku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu, ingatlah saat saat bagaimana aku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya.
Di saat aku dengan pikunnya mengulang terus-menerus ucapan yang membosankanmu, bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku, di masa kecilmu, aku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.
Di saat aku membutuhkanmu untuk memandikanku, janganlah menyalahkanku. Ingatkah di masa kecilmu, bagaimana aku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?
Di saat aku kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi mordern, janganlah menertawaiku. Renungkanlah bagaimana aku dengan sabanya menjawab setiap "mengapa" yang engkau ajukan disaat itu.
Di saat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan, ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku, bagaikan di masa kecilmu aku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.
Di saat aku melupakan topik pembicaraan kita, berilah sedikit waktu kepadaku untuk mengingatnya. Sebenarnya topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan engkau berada di sisiku untuk mendengarkanku, aku akan bahagia.
Di saat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih. Maklumilah diriku, dukunglah aku, bagaikan aku terhadapmu di saat kau mulai belajar tentang kehidupan.
Kisah Cinta dan Waktu
Alkisah disuatu pulau kecil tinggallah benda-benda abstrak seperti cinta, kesedihan, kekayaan, kebahagiaan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik.
Suatu ketika datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan segera menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat segera menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tiodak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai untuk mencari pertolongan. Sementara itu air semakin naik dan mulai membasahi kaki Cinta.
Tak lama kemudian Cinta melihat kekayaan sedsng mengayuh perahu. “Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” teriak Cinta. “Aduh maaf Cinta, perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tidak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu diperahuku ini.”
Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali namun kemudian dilihatnya kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan, tolong aku!”, teriak cinta. Namun Kegembiraan terlalu bergembira menemukan perahu sehingga ia tidak mendengar teriakan Cinta.
Air makin tinggi membasahi sampai ke pinggang dan cintapun mulai panik. Tak lama kemudian lewatlah Kecantikan.”Kecantikan , bawalah aku bersamamu”, teriak Cinta. “Wah Cinta, kamu basah dan kotor, aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku ini”, sahut Kecantikan.
Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itulah lewat Kesedihan. “Oh Kesedihan bawalah aku bersamamu”, kata Cinta. “Maaf Cinta, aku sedang sedih, dan aku ingin sendirian saja…”, kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta sudah mulai putus asa, ia melihat air semakin naik dan akan segera menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah terdengar suara, “Cinta, mari segera naik perahuku”. Cinta menoleh ke suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat ia naik ke perahu itu tepat sebelum air menenggelamkannya.
Di pulau terdekat orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itulah Cinta baru sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang telah menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakan orang tua itu kapada penduduk tua di pulau, siapa sebenarnya orang tua itu. “Oh, orang tua itu tadi?, dia adalah Waktu,” kata orang-orang tersebut. “Tapi kenapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalkupun enggan untuk menolongku”, tanya Cinta heran.
“Sebab hanya waktulah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari cinta itu…”.
Suatu ketika datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan segera menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat segera menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tiodak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai untuk mencari pertolongan. Sementara itu air semakin naik dan mulai membasahi kaki Cinta.
Tak lama kemudian Cinta melihat kekayaan sedsng mengayuh perahu. “Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” teriak Cinta. “Aduh maaf Cinta, perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tidak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu diperahuku ini.”
Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali namun kemudian dilihatnya kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan, tolong aku!”, teriak cinta. Namun Kegembiraan terlalu bergembira menemukan perahu sehingga ia tidak mendengar teriakan Cinta.
Air makin tinggi membasahi sampai ke pinggang dan cintapun mulai panik. Tak lama kemudian lewatlah Kecantikan.”Kecantikan , bawalah aku bersamamu”, teriak Cinta. “Wah Cinta, kamu basah dan kotor, aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku ini”, sahut Kecantikan.
Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itulah lewat Kesedihan. “Oh Kesedihan bawalah aku bersamamu”, kata Cinta. “Maaf Cinta, aku sedang sedih, dan aku ingin sendirian saja…”, kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta sudah mulai putus asa, ia melihat air semakin naik dan akan segera menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah terdengar suara, “Cinta, mari segera naik perahuku”. Cinta menoleh ke suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat ia naik ke perahu itu tepat sebelum air menenggelamkannya.
Di pulau terdekat orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itulah Cinta baru sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang telah menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakan orang tua itu kapada penduduk tua di pulau, siapa sebenarnya orang tua itu. “Oh, orang tua itu tadi?, dia adalah Waktu,” kata orang-orang tersebut. “Tapi kenapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalkupun enggan untuk menolongku”, tanya Cinta heran.
“Sebab hanya waktulah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari cinta itu…”.
It‘s all about God 。。 not about me。 (Joanna Christy)
Akhir-akhir ini guys, aku merasa hubungan ku dengan Tuhan ngga gitu akrab. I'm too busy. aku sibuk ngurusin ini itu, sibuk pelayanan but waktu saat teduh aku dengan Tuhan jadi ngga kayak dulu lagi. :( aku masih tetep berdoa, tetep saat teduh, tapi something is missing。
Sampe aku bales email-email yang masuk en aku bilang mreka harus berdoa, tanya Tuhan kalo ada pertanyaan en denger sampe Tuhan jawab sendiri, waktu itu hati nurani ku udeh bertanya sama diri ku sendiri, "aku sendiri begitu nggaa?" aku berasa aku sendiri ngga segitu eager-nya, ngga segitu rindunya cari Tuhan. *hiks* so hari ini aku mulai coba untuk kembali. en tadi malam ketika aku doa en bilang kerinduan aku untuk kembali bener-bener serius cari wajah Tuhan, tiba-tiba aku keinget sebuah lagu yang dulu sering aku nyanyiin.
hen the music fades
And all is stripped away
And I simply come
Longing just to bring
Something that's of worth
That will bless your heart
* I'll bring You more than a song
For a song in itself
Is not what You have required
You search much deeper within
Through the ways things appear
You're looking into my heart
** I'm coming back to the heart of worship
And it's all about You
All about You, Jesus
I'm sorry Lord for the thing I've made it
When it's all about You
It's all about You Jesus
King of endless worth
No one could express
How much You deserve
Though I'm weak and poor
All I have is Yours
Every single breath
back to *, **
So yah, here i am, kembali ke heart of worship。 It‘sall about God 。。 not about me。 :) Trus aku bilang sama Tuhan, "Tuhan, 3 hari ini aku mo berhenti berdoa minta sesuatu Tuhan. Aku mau berhenti berdoa berkati aku,... Aku mau doa yang dulu pernah ku doakan, let me see YOU or let me die! I WANT TO SEE YOU, Lord. I WANT YOU! i don't want Your blessing, don't want Your protection, I just want YOU!"
So yah, here i am, kembali ke heart of worship。 It‘sall about God 。。 not about me。 :) Trus aku bilang sama Tuhan, "Tuhan, 3 hari ini aku mo berhenti berdoa minta sesuatu Tuhan. Aku mau berhenti berdoa berkati aku,... Aku mau doa yang dulu pernah ku doakan, let me see YOU or let me die! I WANT TO SEE YOU, Lord. I WANT YOU! i don't want Your blessing, don't want Your protection, I just want YOU!"
Tulang Rusuk yang Hilang
Seorang wanita bertanya kepada kekasihnya, " Orang yang paling kamu cintai di dunia ini siapa? " "Kamu dong!" balas kekasihnya dengan cepat. " Menurut kamu, aku ini siapa?" Setelah berpikir sejenak kekasihnya menjawab, "Kamu tulang rusukku".
Ketika Tuhan melihat Adam kesepian, dengan diam2 ketika Adam tertidur, Ia mengambil tulang rusuknya dan diciptakan Hawa. Saat ini semua Pria mencari tulang rusuknya yang hilang, ketika ia menemukan seorang wanita untuknya, ia tidak lagi merasakan sakit hati.
Setelah menikah pasangan itu mengalami masa yang indah untuk sesaat. Setelah itu mereka mulai tenggelam dalam kesibukan dan kepenatan hidup. Hidup mereka jadi membosankan. Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain.
Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas... sampai suatu hari, diakhir sebuah pertengkaran, sang wanita lari ke luar rumah.. saat tiba di seberang jalan dia berteriak, "Kamu tidak mencintai aku lagi!" Pria itu sangat membenci ketidakdewasaan yang ditunjukkan istrinya dan dengan spontan menjawab, "Aku menyesal kita menikah.. ternyata kau bukan tulang rusukku! "
Terdiam dan berdiri terpaku, wanita itu mendengar kekasihnya mengucapkan kata2 seperti itu.... kekasihnya sadar dan menyesal dengan apa yang sudah di ucapkannya., tetapi seperti air tertumpah dan tidak mungkin diambil kembali. Dengan berlinang air mata Wanita itu kembali ke rumah.. mengambil barang2nya.. bertekad untuk berpisah.
"Kalau aku bukan tulang rusukmu biarkan aku pergi" Lima tahun berlalu pria itu tidak menikah lagi.. tetapi berusaha tahu akan kehidupan wanitanya..
Wanita itu pernah keluar negeri tapi sudah kembali lagi.. Ia pernah menikah dengan orang asing tapi kemudian bercerai.
Dan di tengah malam yang sunyi pria itu meminum kopi dan merasakan sakit di hatinya.. tetapi ia tidak sanggup mengakui bahwa ia merindukan wanitanya.. Suatu hari, mereka akhirnya bertemu di airport, tempat dimana banyak terjadi pertemuan dan perpisahan. "Apa kabarmu? " "Baik.. apa kamu sudah menemukan tulang rusukmu yang hilang?" " Belum... " "Aku akan terbang keluar negeri .. dan akan kembali 2 minggu lagi.. telpon aku kalau kamu sempat.. kamu tau nomor telpon kita.. tidak ada yang berubah " Wanita itu tersentum manis .. lalu berkata " Bye.... "
Seminggu kemudian ia mendengar bahwa wanitanya adalah salah satu korban kecelakaan pesawat... Malam itu sekali lagi pria itu meneguk kopinya dan kembali merasakan sakit di hatinya.. Akhirnya ia sadar bahwa sakit itu adalah karena wanitanya.. tulang rusuknya sendiri yang telah dengan bodohnya ia patahkan..
Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai.. dan akibatnya seringkali adalah fatal.
Love and unconditional love
Di jaman Yunani, orang Yunani menggolongkan cinta dalam 3 kategori, yaitu:
1. Cinta kepada Allah (Agape)
2. Cinta kepada lawan jenis (Eros/Erotika)
3. Cinta Persaudaraan (Felio)
Banyak orang mengira bahwa cinta itu sama dengan kasih, apakah benar demikian?
Kita sering melihat seseorang mengatakan mengasihi Allah, tetapi ia menuntut Allah memberkatinya terlebih dahulu. Kita juga sering melihat seseorang yang mengatakan cinta dan mengasihi kekasihnya, tetapi ia mengekang dan dan buta akan cinta. Ada juga seorang ibu yang dikatakan selalu mengasihi anaknya, tetapi mengapa kasih itu pudar di jaman sekarang?...banyak dari mereka menelantarkan anak-anaknya begitu saja...
Bagaimana memahami cinta dan kasih, sesungguhnya cinta tidaklah sama dengan kasih, cinta dan kasih bisa dijelaskan dalam definisi yang berbeda. Seseorang yang yang mencintai, baik itu cinta terhadap lawan jenis atau cinta kepada orang tua, sifat cinta ini masih bisa berubah tetapi kasih tidak pernah berubah.
Cinta selalu menuntut suatu imbalan/pamrih, orang yang mencintai tanpa disadari ia menuntut pamrih supaya orang yang ia cintai bisa menerima cintanya, jika ia tidak mendapatkan itu, cintanya bisa berubah bahkan bisa menjadi kebencian jika seseorang tidak/kurang memahami tentang kasih.
Pada jaman Yunani orang baru mengklasifikasikan tentang cinta, namun pemahaman tentang cinta itu sendiri masih menjadi misteri (belum ada penjelasan yang lebih rational). Bahasa Inggris mengenal kata kasih dan cinta dalam satu kata yang sama “love’, ini disebabkan pemahaman bahwa cinta dan kasih adalh sama karena mengacu pada pengertian tentang cinta dari 3 kalsifikasi abad Yunani. Namun dalam bahasa Indonesia, kita mengenal kata cinta dan kasih ditulis dalam dua kata yang berbeda dan bisa dijelaskan dalam definisi yang berbeda pula.
Perkembangan selanjutnya, manusia menyadari bahwa sebenarnya cinta adalah bentuk tidak sempurna dari kasih, cinta menuntut syarat/kondisi, karena setiap orang yang mengatakan ‘mencintai’ ada keinginan iapun mendapatkan cinta dari pihak ke dua, pada kondisi seperti ini, cinta mengenal suatu perubahan, ketika seseorang menolak cintanya, ia bisa berubah menjadi benci/tidak mencintai. Tetapi orang yang mengasihi tidak menuntut apapun, jika orang yang dikasihi itu mau menerima kasih itu atau tidak menerima kasih tersebut, itu tidak menjadi suatu masalah. Kasih juga tidak pernah bisa disakiti karena kasih selalu mengampuni, jadi kasih tidak mengenal kata sakit hati, yang masih bisa timbul dari cinta.
Kehidupan dalam masyarakat memberi dampak seseorang hanya mengenal/berpikir dalam level ‘mencintai’ bukan ‘mengasihi’ , Karena faktor ekonomi, status sosial, dll.
Jika kita pernah mendengar kalimat ‘Surga ada di telapak kaki ibu” atau ‘sekejam-kejamnya orang tua tidak akan mencelakakan anaknya sendiri’, di jaman sekarang agaknya pemahaman ini sudah terkikis. Seorang ibu tanpa memahami arti ‘kasih’ akan menyiksa anaknya karena stress/himpitan ekonomi, memanfaatkan bahkan membunuh. Seorang wanita yang hamil di luar nikah, karena malu membuang/membunuh anaknya sendiri sering terjadi di jaman sekarang.
Pada akhirnya manusia menyadari bahwa cinta bukanlah kasih, Karena itu dalam perkembangan selanjutnya muncul kata ‘unconditional love’ atau cinta yang tidak menuntut syarat atau tidak melihat/tergantung kondisi, kata baru ini merujuk pada kata ‘kasih’. Karena tidak ditemukan kata kasih dalam bahasa Inggris maka dikenal kata ‘unconditional love’ merujuk pada sifat dari kata itu sendiri. Melihat dari sifat kasih ini sesuai dengan firman Allah yang mengatakan “kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri”.
“Firman tuhan yang mengatakan “berilah minum pada mereka yang haus dan makan pada mereka yang lapar dan pakaian bagi mereka yang telanjang”, perintah ini tidak dikhususkan pada orang-orang terdekat saja (ayah, ibu, saudara) /orang yang telah berbuat baik kepada kita saja, tetapi bagi setiap orang.
Kita telah memahami bahwa cinta bukanlah kasih, cinta menuntut syarat dan bukan berharap, cinta juga cenderung berubah, cinta itu juga tidak kekal seperti yang dikumandangkan orang-orang yang sedang jatuh cinta, bahwa cinta itu abadi. Karena cinta dalam kategori erotica bersifat sementara/sampai masa hidup orang tersebut, karena kita hidup di dunia kita mengenal cinta terhadap lawan jenis tetapi dalam kekalan tidak ada kawin dan mengawinkan.
Kasih bersifat abadi karena kasih adalah karakter Allah. Dalam pengadilanNya di akhir jaman kita tetap menemukan kasihNya. Kita juga ingat menjelang kematiaanNya, Ia menunjukkan kasihNya dengan mengampuni salah satu penjahat yang disalib di sampingNya, bahkan Ia mengampuni orang-orang yang sudah menganiaya Dia dalam doaNya. Karena kasih tidak berubah sekalipun ia ditolak dan teraniaya.
Orang yang kurang memahami tentang kasih dan cinta, ia mudah ditipu oleh iblis (cerita ini sudah terjadi berabad-abad sampai sekarang), bahkan ketika ia frustasi karena penolakan cinta, ia bisa rela membunuh hidupnya sendiri, atau mereka yang sedang jatuh cinta tetapi mendapat penolakan dari lingkungan keluarga/masyarakat, mereka membunuh diri mereka sendiri untuk alasan keabadian dan keagungan cinta mereka (cerita-cerita versi Romeo dan Juliet). Orang yang memahami tentang kasih ketika mengalami penolakan dari orang yang ia cintai, ia akan merelakan orang yang ia cintai itu bisa mendapatkan kebahagiaan atas keputusannya sendiri.
Jadi apakah manusia tidak boleh mencintai?...
Setiap orang mempunyai hak untuk mencintai dan dicintai. Cinta yang timbul dalam hati manusia adalah kasih karunia Allah yang diberikan kepada manusia. Adalah suatu keinginan dari Allah supaya menusia beranak-cucu dan memenuhi bumi. Namun demikian adalah lebih baik jika kita tidak sekedar memahami tentang cinta saja tetapi lebih dari itu adalah memahami tentang kasih. Ketika kita kembali kepada Allah, kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri (apa yang sudah kita perbuat dan mempertanggungjawabkan talenta yang diberikan Allah) dan barang siapa hidup sesuai kehendak Allah akan hidup abadi seperti malaikat-malaikat di Surga.
Kasih bukanlah cinta. Cinta diberikan kepada orang-orang tertentu saja (keluarga, orang yang kita cintai). Jadi sebenarnya cinta diberikan kepada sedikit orang saja dan bersifat khusus. Tetapi kasih diberikan kepada banyak orang bahkan sampai tidak terbatas dan bersifat universal.
Kasih cenderung mengampuni ketika ia disakiti dan ia menutupi segala perkara, karena itu kasih tidak bisa disakiti. Ia tidak dendam tetapi mengubah sakit hati menjadi obat yang memulihkan dan mempertahankan untuk tetap ada dalam damai sehjahtera. Salah satu sifat kasih yang kontradiktif dengan cinta, kasih itu tidak cemburu.
Dalam hal melayani, jika seseorang masih di level cinta, ia masih bisa merasa cemburu karena status atau kepentingan lain. Tetapi kasih tidak pernah mementingkan status atau hal-hal lain, ia melakukan segala sesuatu dengan pengorbanan yang besar, melawan kelemahan-kelemahan dirinya sendiri dan aniaya/fitnah dari luar demi tujuan melayani dengan benar dan tulus kepada Allah. Ia tidak mencari kedudukan dan kepentingan sendiri.
Seseorang yang mengasihi Allah, ia tidak mengasihi Allah karena Allah sudah menyembuhkan, memberkati, melakukan mujizat atau menolong dia. Tetapi mengasihi Allah karena ketulusan.
Sadrakh, Mesak dan Abednego berkata, “Jika Allah tidak menolong kami dari dapur api, sekali-kali kami tidak akan menyembah patung buatan raja”. Orang yang mempunyai kasih, Allah hidup didalam dirinya.
Cinta mungkin bisa mempersatukan tetapi bukan jaminan untuk bisa mempertahankan. Cinta itu seperti benih tumbuhan yang ditabur yang bisa tumbuh di mana saja, bahkan di padang belantara, tetapi kasihlah yang mengairi sehingga benih itu akan tetap hidup dan menjadi besar.
“Segala sesuatu yang baik bermula dari kasih”.
1. Cinta kepada Allah (Agape)
2. Cinta kepada lawan jenis (Eros/Erotika)
3. Cinta Persaudaraan (Felio)
Banyak orang mengira bahwa cinta itu sama dengan kasih, apakah benar demikian?
Kita sering melihat seseorang mengatakan mengasihi Allah, tetapi ia menuntut Allah memberkatinya terlebih dahulu. Kita juga sering melihat seseorang yang mengatakan cinta dan mengasihi kekasihnya, tetapi ia mengekang dan dan buta akan cinta. Ada juga seorang ibu yang dikatakan selalu mengasihi anaknya, tetapi mengapa kasih itu pudar di jaman sekarang?...banyak dari mereka menelantarkan anak-anaknya begitu saja...
Bagaimana memahami cinta dan kasih, sesungguhnya cinta tidaklah sama dengan kasih, cinta dan kasih bisa dijelaskan dalam definisi yang berbeda. Seseorang yang yang mencintai, baik itu cinta terhadap lawan jenis atau cinta kepada orang tua, sifat cinta ini masih bisa berubah tetapi kasih tidak pernah berubah.
Cinta selalu menuntut suatu imbalan/pamrih, orang yang mencintai tanpa disadari ia menuntut pamrih supaya orang yang ia cintai bisa menerima cintanya, jika ia tidak mendapatkan itu, cintanya bisa berubah bahkan bisa menjadi kebencian jika seseorang tidak/kurang memahami tentang kasih.
Pada jaman Yunani orang baru mengklasifikasikan tentang cinta, namun pemahaman tentang cinta itu sendiri masih menjadi misteri (belum ada penjelasan yang lebih rational). Bahasa Inggris mengenal kata kasih dan cinta dalam satu kata yang sama “love’, ini disebabkan pemahaman bahwa cinta dan kasih adalh sama karena mengacu pada pengertian tentang cinta dari 3 kalsifikasi abad Yunani. Namun dalam bahasa Indonesia, kita mengenal kata cinta dan kasih ditulis dalam dua kata yang berbeda dan bisa dijelaskan dalam definisi yang berbeda pula.
Perkembangan selanjutnya, manusia menyadari bahwa sebenarnya cinta adalah bentuk tidak sempurna dari kasih, cinta menuntut syarat/kondisi, karena setiap orang yang mengatakan ‘mencintai’ ada keinginan iapun mendapatkan cinta dari pihak ke dua, pada kondisi seperti ini, cinta mengenal suatu perubahan, ketika seseorang menolak cintanya, ia bisa berubah menjadi benci/tidak mencintai. Tetapi orang yang mengasihi tidak menuntut apapun, jika orang yang dikasihi itu mau menerima kasih itu atau tidak menerima kasih tersebut, itu tidak menjadi suatu masalah. Kasih juga tidak pernah bisa disakiti karena kasih selalu mengampuni, jadi kasih tidak mengenal kata sakit hati, yang masih bisa timbul dari cinta.
Kehidupan dalam masyarakat memberi dampak seseorang hanya mengenal/berpikir dalam level ‘mencintai’ bukan ‘mengasihi’ , Karena faktor ekonomi, status sosial, dll.
Jika kita pernah mendengar kalimat ‘Surga ada di telapak kaki ibu” atau ‘sekejam-kejamnya orang tua tidak akan mencelakakan anaknya sendiri’, di jaman sekarang agaknya pemahaman ini sudah terkikis. Seorang ibu tanpa memahami arti ‘kasih’ akan menyiksa anaknya karena stress/himpitan ekonomi, memanfaatkan bahkan membunuh. Seorang wanita yang hamil di luar nikah, karena malu membuang/membunuh anaknya sendiri sering terjadi di jaman sekarang.
Pada akhirnya manusia menyadari bahwa cinta bukanlah kasih, Karena itu dalam perkembangan selanjutnya muncul kata ‘unconditional love’ atau cinta yang tidak menuntut syarat atau tidak melihat/tergantung kondisi, kata baru ini merujuk pada kata ‘kasih’. Karena tidak ditemukan kata kasih dalam bahasa Inggris maka dikenal kata ‘unconditional love’ merujuk pada sifat dari kata itu sendiri. Melihat dari sifat kasih ini sesuai dengan firman Allah yang mengatakan “kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri”.
“Firman tuhan yang mengatakan “berilah minum pada mereka yang haus dan makan pada mereka yang lapar dan pakaian bagi mereka yang telanjang”, perintah ini tidak dikhususkan pada orang-orang terdekat saja (ayah, ibu, saudara) /orang yang telah berbuat baik kepada kita saja, tetapi bagi setiap orang.
Kita telah memahami bahwa cinta bukanlah kasih, cinta menuntut syarat dan bukan berharap, cinta juga cenderung berubah, cinta itu juga tidak kekal seperti yang dikumandangkan orang-orang yang sedang jatuh cinta, bahwa cinta itu abadi. Karena cinta dalam kategori erotica bersifat sementara/sampai masa hidup orang tersebut, karena kita hidup di dunia kita mengenal cinta terhadap lawan jenis tetapi dalam kekalan tidak ada kawin dan mengawinkan.
Kasih bersifat abadi karena kasih adalah karakter Allah. Dalam pengadilanNya di akhir jaman kita tetap menemukan kasihNya. Kita juga ingat menjelang kematiaanNya, Ia menunjukkan kasihNya dengan mengampuni salah satu penjahat yang disalib di sampingNya, bahkan Ia mengampuni orang-orang yang sudah menganiaya Dia dalam doaNya. Karena kasih tidak berubah sekalipun ia ditolak dan teraniaya.
Orang yang kurang memahami tentang kasih dan cinta, ia mudah ditipu oleh iblis (cerita ini sudah terjadi berabad-abad sampai sekarang), bahkan ketika ia frustasi karena penolakan cinta, ia bisa rela membunuh hidupnya sendiri, atau mereka yang sedang jatuh cinta tetapi mendapat penolakan dari lingkungan keluarga/masyarakat, mereka membunuh diri mereka sendiri untuk alasan keabadian dan keagungan cinta mereka (cerita-cerita versi Romeo dan Juliet). Orang yang memahami tentang kasih ketika mengalami penolakan dari orang yang ia cintai, ia akan merelakan orang yang ia cintai itu bisa mendapatkan kebahagiaan atas keputusannya sendiri.
Jadi apakah manusia tidak boleh mencintai?...
Setiap orang mempunyai hak untuk mencintai dan dicintai. Cinta yang timbul dalam hati manusia adalah kasih karunia Allah yang diberikan kepada manusia. Adalah suatu keinginan dari Allah supaya menusia beranak-cucu dan memenuhi bumi. Namun demikian adalah lebih baik jika kita tidak sekedar memahami tentang cinta saja tetapi lebih dari itu adalah memahami tentang kasih. Ketika kita kembali kepada Allah, kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri (apa yang sudah kita perbuat dan mempertanggungjawabkan talenta yang diberikan Allah) dan barang siapa hidup sesuai kehendak Allah akan hidup abadi seperti malaikat-malaikat di Surga.
Kasih bukanlah cinta. Cinta diberikan kepada orang-orang tertentu saja (keluarga, orang yang kita cintai). Jadi sebenarnya cinta diberikan kepada sedikit orang saja dan bersifat khusus. Tetapi kasih diberikan kepada banyak orang bahkan sampai tidak terbatas dan bersifat universal.
Kasih cenderung mengampuni ketika ia disakiti dan ia menutupi segala perkara, karena itu kasih tidak bisa disakiti. Ia tidak dendam tetapi mengubah sakit hati menjadi obat yang memulihkan dan mempertahankan untuk tetap ada dalam damai sehjahtera. Salah satu sifat kasih yang kontradiktif dengan cinta, kasih itu tidak cemburu.
Dalam hal melayani, jika seseorang masih di level cinta, ia masih bisa merasa cemburu karena status atau kepentingan lain. Tetapi kasih tidak pernah mementingkan status atau hal-hal lain, ia melakukan segala sesuatu dengan pengorbanan yang besar, melawan kelemahan-kelemahan dirinya sendiri dan aniaya/fitnah dari luar demi tujuan melayani dengan benar dan tulus kepada Allah. Ia tidak mencari kedudukan dan kepentingan sendiri.
Seseorang yang mengasihi Allah, ia tidak mengasihi Allah karena Allah sudah menyembuhkan, memberkati, melakukan mujizat atau menolong dia. Tetapi mengasihi Allah karena ketulusan.
Sadrakh, Mesak dan Abednego berkata, “Jika Allah tidak menolong kami dari dapur api, sekali-kali kami tidak akan menyembah patung buatan raja”. Orang yang mempunyai kasih, Allah hidup didalam dirinya.
Cinta mungkin bisa mempersatukan tetapi bukan jaminan untuk bisa mempertahankan. Cinta itu seperti benih tumbuhan yang ditabur yang bisa tumbuh di mana saja, bahkan di padang belantara, tetapi kasihlah yang mengairi sehingga benih itu akan tetap hidup dan menjadi besar.
“Segala sesuatu yang baik bermula dari kasih”.
Langganan:
Postingan (Atom)